Kelemahlembutan adalah akhlak mulia. Ia berada diantara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya degan kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta Ala dan Rasul-Nya. Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya dengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia. Namun jika dihadapi dengan ilmu dan kelemahlembutan, ia akan mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta Ala dan makhluk-makhluknya.
Orang yang memiliki akhlak lemah lembut, insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.
Keutamaan sifat Ar-Rifq (lemah lembut).
Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa sifat Ar-Rifq (lemah lembut) merupakan sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan juga dengannya akan bisa meraih segala kebaikan dan keutamaan. Dengannya pula akan melahirkan sikap hikmah, yang juga merupakan sikap yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam berkata dan bertindak.
Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya.
Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)
Kemudian beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut: “Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)
Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya: “Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidk pernah terpisahkan dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia gagal untuk menyelesaikan problemanya. Demikian agungnya akhlak ini sehingga Rasullah memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya :Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa) (HR. Muslim)
Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain. Padahal rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasehat : Janganlah kamu marah. Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda : Janganlah kamu marah (HR. Bukhari).
Dari hadits ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga Rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah.
Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh hawa nafsu yang memancing pelakunya bersikap melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca, dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dari kelemahlembutan.
Semua manusia pada dasarnya memiliki sifat marah, karena marah adalah salah satu tabiat manusia, maka agama tidak melarang marah tetapi kita diperintahkan untuk dapat mengendalikan marah dan senantiasa menjadi pemaaf, seperti yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta Ala dalam Qs Al A’raf ayat 199 yang artinya “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”.
Bagaimana Sich Cara Mengendalikan Marah?
Al Imam Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata : “Empat hal, barang siapa yang mampu mengendalikannya maka Allah akan menjaga dari syaitan dan diharamkan dari neraka : yaitu seseorang mampu mengatasi hawa nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah”.
Kemarahan dapat dipacu oleh hal yang prinsip maupun yang tidak prinsip. Setiap muslim harus marah manakala kemuliaan Islam dilecehkan. Sedangkan kita dituntut untuk dapat mengendalikan marah sekaligus mema’afkan orang lain ketika penyebab marahnya tertuju kepada diri sebagai pribadi.
Marah Merusak Fisik dan Mental.
Kemarahan adalah bara api yang ditanamkan setan ke dalam hati manusia sehingga fisik kita pun dapat melihat tanda-tanda kemarahan seperti mata yang menjadi merah, urat lehernya menegang, tangan gemetar sampai mengeluarkan sumpah serapah. Jika tidak dapat mengendalikan marah, maka manusia dapat kehilangan akal sehatnya.
Marah dan emosi adalah tabiat manusia.
Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif. Dalam riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam bersabda Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai (H.R. Ahmad).
Dalam riwayat Abu Hurairah dikatakan Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah (Muttafaqqunalahi) (H.R. Malik)
Menahan marah bukan pekerjaan gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja, tapi jika saat itu kita mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang kuat.
Cara-cara meredam atau mengendalikan kemarahan: Ada seseorang lelaki yang datang pada Rosulullah dan mengatakan “Wahai Rosulullah, ajarkanlah saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya kepada surga dan menjauhkan dari neraka. ” Maka beliau bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan. Maka menahan marah merupakan salah satu hal yang harus kita latih agar mendapatkan kenikmatan di surga kelak.
Tips untuk mengendalikan amarah.
1. Membaca Ta’awwudz.
Rasulullah bersabda Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A’uudzu billah mina-syaithaani-r-rajiim Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (H.R. Bukhari Muslim).
2. Berwudlu.
Rasulullah bersabda Kemarahan itu itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah (H.R. Abud Dawud).
3. Duduk.
Dalam sebuah hadist dikatakanKalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah (H.R. Abu Dawud).
4. Diam.
Dalam sebuah hadist dikatakan Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah (H.R. Ahmad).
5. Bersujud.
Artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadist dikatakan Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud). (H.R. Tirmidzi).
6. Tingkatkan Empati.
Lihatlah situasinya menurut sudut pandang orang lain. Ini akan membuat Anda menemukan kecakapan baru, bahwa Anda bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Maka, orang lain akan lebih menghargai Anda.
7. Memaafkan.
Betapa pun Anda pernah luka di “hati” yang dalam membekas, cobalah untuk memaafkan…meskipun menurut Anda hal itu tidak mungkin untuk dimaafkan. Cobalah melepaskan amarah dengan memaafkannya. Percayalah, Anda akan merasakan “pelepasan beban” yang membuat hidup jauh lebih ringan untuk dijalani.
8. Toleransi.
Belajar menerima orang lain seperti apa adanya, bukan ingin menjadikan mereka sesuai kehendak Anda. Dengan sikap toleran ini, maka pada saat Anda berbicara, itu akan lebih didengarkan oleh orang lain.
9. Miliki Sahabat Karib.
Seorang sahabat karib, bisa dipercaya, dan dapat memberikan dukungan buat Anda, pada saat diperlukan. Sahabat juga tempat untuk berbagi. Dengan berbagi, gemuruh amarah akan menemukan pelepasannya, sehingga bisa diredakan.
10. Bahasa Positif & Lugas.
Meskipun marah karena merasakan ketidak adilan pada diri Anda, tetaplah fokus dan selektif. Gunakan bahasa positif namun lugas, simple, dengan nada suara yang rendah. Ini bisa membuat rasa marah mereda, dan bicara Anda pun akan lebih diperhatikan, dibandingkan jika Anda mengungkapkannya dengan nada tinggi dan keras, apalagi jika sampai memaki dan menghujat…yang mana bisa saja “seluruh isi kebun binatang” keluar dari mulut Anda.
11. Memelihara Binatang.
Nah, daripada “seluruh isi kebun binatang” keluar dari mulut Anda, saat marah…mendingan Anda memelihara hewan kesayangan, hehehe…. Ini tidak menuntut banyak, kecuali makanan dan perhatian. Memelihara hewan kesayangan adalah tindakan bagus dan baik, sebagai awal Anda untuk belajar memperhatikan lingkungan sekitar Anda. Penelitian psikologis, menunjukkan bahwa secara fisik dan emosi, pemilik hewan kesayangan lebih baik, dibandingkan yang tidak memilikinya.
Renungkan, Mengapa Kita Marah? “Apa yang membuat saya jadi marah? Apakah saya harus merelakan diri saya diperbudak setan? Apakah marah ini menyelesaikan masalah? Atau malah menjerumuskannya?” Kemudian renungkan, siapa yang menghendaki kita marah?Apakah memang karena masalah?Atau karena bisikan syetan yang terkutuk? Apa sih yang kita inginkan dari marah ini? Apakah kita ingin orang mengerti, atau kita hanya sekedar memuntahkan kekesalan? Dengan terus bertanya, InsyaAllah akan menghentikan kemarahan. Dengan mengetahui upaya yang dapat dilakukan apabila rasa marah sedang berkecamuk di hati, maka semoga kita semua dapat terhindar dari semua hal negatif yang disebabkan oleh rasa marah.
Kiat Mengendalikan Marah
Apakah marah itu salah? Bolehkah kita mengungkapkan kekesalan atau kekecewaan yang amat dalam melalui kemarahan?
Mungkin pertanyaan itu sudah dapat Anda jawab karena setiap orang, termasuk Anda, memiliki pandangan pribadi tentang kemarahan. Tulisan ini tidak akan membahas boleh atau tidak, salah atau tidak soal marah itu.
Hal yang paling utama adalah bagaimana mengendalikan kemarahan itu supaya ketika kita harus mengungkapkannya, hati dan pikiran bisa secepatnya jernih kembali.
Jadi, apa yang perlu kita lakukan?
1. Sadari bahwa Anda sedang marah.
Mungkin kedengaran aneh ketika kita marah kita juga diminta untuk sadar bahwa kita sedang marah. “Kalau marah ya marah aja,” begitu mungkin pendapat pribadi Anda. Tidak ada yang salah. Akan tetapi, ketika kita mampu mengolah kesadaran bahwa kita sedang marah maka kemarahan itu masih tetap terkendali.
2. Pastikan bahwa Anda memang berhak marah.
Ups, memang hak setiap orang untuk marah dalam situasi tertentu. Oleh karena itu, pastikan bahwa Anda memang berhak marah pada saat itu. Jangan tiba-tiba tanpa sebab Anda lalu marah-marah. Orang pasti akan terheran-heran dengan tindakan Anda. Bisa jadi Anda akan dibilang sedang stres karena tanpa sebab Anda meluapkan kemarahan. Hak Anda untuk marah ketika hati Anda dilukai orang lain. Daripada dipendam, sebaiknya ungkapkan saja, bukan? Asal dalam porsi yang benar, kemarahan bisa juga kok mendidik kita untuk lebih bijak.
3. Marahlah pada orang yang tepat.
Ketika kita marah, tujukan kepada orang yang tepat. Jangan sembarang orang kita marahi. Bisa saja kita malah kena serangan balik yang membuat kita malu. Kalau bisa juga tujukan kemarahan kepada orang yang mau berubah, berani bersikap ketika merasa bersalah, dan tidak sulit meminta maaf. Kemarahan kepada orang seperti ini akan memberikan pelajaran yang berharga untuk hidup yang lebih baik.
Ketiga butir di atas semoga bisa menjadi sekelumit inspirasi ketika sisi-sisi batin kita sedang “panas”. Memang lebih bijak ketika kita bisa dengan cepat mengendalikan diri dan mengubah kemarahan menjadi senyum ramah, penuh kelemahlembutan dalam bertutur kata. Namun, jika belum mampu secepat itu membalikkan suasana batin maka marahlah dalam kendali diri yang lebih baik lagi.
Semoga kita bisa. Dan, jika Anda malah marah setelah membaca tulisan saya ini, saya minta maaf. Ups, jangan marah……
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bersabar. Amin….Insya Allah…
Referensi : Ensiklopedia Mukjizat Al Qur’an dan Hadis.
Orang yang memiliki akhlak lemah lembut, insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.
Keutamaan sifat Ar-Rifq (lemah lembut).
Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa sifat Ar-Rifq (lemah lembut) merupakan sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan juga dengannya akan bisa meraih segala kebaikan dan keutamaan. Dengannya pula akan melahirkan sikap hikmah, yang juga merupakan sikap yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam berkata dan bertindak.
Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya.
Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)
Kemudian beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut: “Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)
Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya: “Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidk pernah terpisahkan dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia gagal untuk menyelesaikan problemanya. Demikian agungnya akhlak ini sehingga Rasullah memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya :Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa) (HR. Muslim)
Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain. Padahal rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasehat : Janganlah kamu marah. Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda : Janganlah kamu marah (HR. Bukhari).
Dari hadits ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga Rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah.
Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh hawa nafsu yang memancing pelakunya bersikap melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca, dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dari kelemahlembutan.
Semua manusia pada dasarnya memiliki sifat marah, karena marah adalah salah satu tabiat manusia, maka agama tidak melarang marah tetapi kita diperintahkan untuk dapat mengendalikan marah dan senantiasa menjadi pemaaf, seperti yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta Ala dalam Qs Al A’raf ayat 199 yang artinya “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”.
Bagaimana Sich Cara Mengendalikan Marah?
Al Imam Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata : “Empat hal, barang siapa yang mampu mengendalikannya maka Allah akan menjaga dari syaitan dan diharamkan dari neraka : yaitu seseorang mampu mengatasi hawa nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah”.
Kemarahan dapat dipacu oleh hal yang prinsip maupun yang tidak prinsip. Setiap muslim harus marah manakala kemuliaan Islam dilecehkan. Sedangkan kita dituntut untuk dapat mengendalikan marah sekaligus mema’afkan orang lain ketika penyebab marahnya tertuju kepada diri sebagai pribadi.
Marah Merusak Fisik dan Mental.
Kemarahan adalah bara api yang ditanamkan setan ke dalam hati manusia sehingga fisik kita pun dapat melihat tanda-tanda kemarahan seperti mata yang menjadi merah, urat lehernya menegang, tangan gemetar sampai mengeluarkan sumpah serapah. Jika tidak dapat mengendalikan marah, maka manusia dapat kehilangan akal sehatnya.
Marah dan emosi adalah tabiat manusia.
Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif. Dalam riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Sallam bersabda Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai (H.R. Ahmad).
Dalam riwayat Abu Hurairah dikatakan Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah (Muttafaqqunalahi) (H.R. Malik)
Menahan marah bukan pekerjaan gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja, tapi jika saat itu kita mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang kuat.
Cara-cara meredam atau mengendalikan kemarahan: Ada seseorang lelaki yang datang pada Rosulullah dan mengatakan “Wahai Rosulullah, ajarkanlah saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya kepada surga dan menjauhkan dari neraka. ” Maka beliau bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan. Maka menahan marah merupakan salah satu hal yang harus kita latih agar mendapatkan kenikmatan di surga kelak.
Tips untuk mengendalikan amarah.
1. Membaca Ta’awwudz.
Rasulullah bersabda Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A’uudzu billah mina-syaithaani-r-rajiim Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (H.R. Bukhari Muslim).
2. Berwudlu.
Rasulullah bersabda Kemarahan itu itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah (H.R. Abud Dawud).
3. Duduk.
Dalam sebuah hadist dikatakanKalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah (H.R. Abu Dawud).
4. Diam.
Dalam sebuah hadist dikatakan Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah (H.R. Ahmad).
5. Bersujud.
Artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadist dikatakan Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud). (H.R. Tirmidzi).
6. Tingkatkan Empati.
Lihatlah situasinya menurut sudut pandang orang lain. Ini akan membuat Anda menemukan kecakapan baru, bahwa Anda bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Maka, orang lain akan lebih menghargai Anda.
7. Memaafkan.
Betapa pun Anda pernah luka di “hati” yang dalam membekas, cobalah untuk memaafkan…meskipun menurut Anda hal itu tidak mungkin untuk dimaafkan. Cobalah melepaskan amarah dengan memaafkannya. Percayalah, Anda akan merasakan “pelepasan beban” yang membuat hidup jauh lebih ringan untuk dijalani.
8. Toleransi.
Belajar menerima orang lain seperti apa adanya, bukan ingin menjadikan mereka sesuai kehendak Anda. Dengan sikap toleran ini, maka pada saat Anda berbicara, itu akan lebih didengarkan oleh orang lain.
9. Miliki Sahabat Karib.
Seorang sahabat karib, bisa dipercaya, dan dapat memberikan dukungan buat Anda, pada saat diperlukan. Sahabat juga tempat untuk berbagi. Dengan berbagi, gemuruh amarah akan menemukan pelepasannya, sehingga bisa diredakan.
10. Bahasa Positif & Lugas.
Meskipun marah karena merasakan ketidak adilan pada diri Anda, tetaplah fokus dan selektif. Gunakan bahasa positif namun lugas, simple, dengan nada suara yang rendah. Ini bisa membuat rasa marah mereda, dan bicara Anda pun akan lebih diperhatikan, dibandingkan jika Anda mengungkapkannya dengan nada tinggi dan keras, apalagi jika sampai memaki dan menghujat…yang mana bisa saja “seluruh isi kebun binatang” keluar dari mulut Anda.
11. Memelihara Binatang.
Nah, daripada “seluruh isi kebun binatang” keluar dari mulut Anda, saat marah…mendingan Anda memelihara hewan kesayangan, hehehe…. Ini tidak menuntut banyak, kecuali makanan dan perhatian. Memelihara hewan kesayangan adalah tindakan bagus dan baik, sebagai awal Anda untuk belajar memperhatikan lingkungan sekitar Anda. Penelitian psikologis, menunjukkan bahwa secara fisik dan emosi, pemilik hewan kesayangan lebih baik, dibandingkan yang tidak memilikinya.
Renungkan, Mengapa Kita Marah? “Apa yang membuat saya jadi marah? Apakah saya harus merelakan diri saya diperbudak setan? Apakah marah ini menyelesaikan masalah? Atau malah menjerumuskannya?” Kemudian renungkan, siapa yang menghendaki kita marah?Apakah memang karena masalah?Atau karena bisikan syetan yang terkutuk? Apa sih yang kita inginkan dari marah ini? Apakah kita ingin orang mengerti, atau kita hanya sekedar memuntahkan kekesalan? Dengan terus bertanya, InsyaAllah akan menghentikan kemarahan. Dengan mengetahui upaya yang dapat dilakukan apabila rasa marah sedang berkecamuk di hati, maka semoga kita semua dapat terhindar dari semua hal negatif yang disebabkan oleh rasa marah.
Kiat Mengendalikan Marah
Apakah marah itu salah? Bolehkah kita mengungkapkan kekesalan atau kekecewaan yang amat dalam melalui kemarahan?
Mungkin pertanyaan itu sudah dapat Anda jawab karena setiap orang, termasuk Anda, memiliki pandangan pribadi tentang kemarahan. Tulisan ini tidak akan membahas boleh atau tidak, salah atau tidak soal marah itu.
Hal yang paling utama adalah bagaimana mengendalikan kemarahan itu supaya ketika kita harus mengungkapkannya, hati dan pikiran bisa secepatnya jernih kembali.
Jadi, apa yang perlu kita lakukan?
1. Sadari bahwa Anda sedang marah.
Mungkin kedengaran aneh ketika kita marah kita juga diminta untuk sadar bahwa kita sedang marah. “Kalau marah ya marah aja,” begitu mungkin pendapat pribadi Anda. Tidak ada yang salah. Akan tetapi, ketika kita mampu mengolah kesadaran bahwa kita sedang marah maka kemarahan itu masih tetap terkendali.
2. Pastikan bahwa Anda memang berhak marah.
Ups, memang hak setiap orang untuk marah dalam situasi tertentu. Oleh karena itu, pastikan bahwa Anda memang berhak marah pada saat itu. Jangan tiba-tiba tanpa sebab Anda lalu marah-marah. Orang pasti akan terheran-heran dengan tindakan Anda. Bisa jadi Anda akan dibilang sedang stres karena tanpa sebab Anda meluapkan kemarahan. Hak Anda untuk marah ketika hati Anda dilukai orang lain. Daripada dipendam, sebaiknya ungkapkan saja, bukan? Asal dalam porsi yang benar, kemarahan bisa juga kok mendidik kita untuk lebih bijak.
3. Marahlah pada orang yang tepat.
Ketika kita marah, tujukan kepada orang yang tepat. Jangan sembarang orang kita marahi. Bisa saja kita malah kena serangan balik yang membuat kita malu. Kalau bisa juga tujukan kemarahan kepada orang yang mau berubah, berani bersikap ketika merasa bersalah, dan tidak sulit meminta maaf. Kemarahan kepada orang seperti ini akan memberikan pelajaran yang berharga untuk hidup yang lebih baik.
Ketiga butir di atas semoga bisa menjadi sekelumit inspirasi ketika sisi-sisi batin kita sedang “panas”. Memang lebih bijak ketika kita bisa dengan cepat mengendalikan diri dan mengubah kemarahan menjadi senyum ramah, penuh kelemahlembutan dalam bertutur kata. Namun, jika belum mampu secepat itu membalikkan suasana batin maka marahlah dalam kendali diri yang lebih baik lagi.
Semoga kita bisa. Dan, jika Anda malah marah setelah membaca tulisan saya ini, saya minta maaf. Ups, jangan marah……
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bersabar. Amin….Insya Allah…
Referensi : Ensiklopedia Mukjizat Al Qur’an dan Hadis.







0 komentar:
Posting Komentar