Minggu, 21 Desember 2014

Tawakal Bukan Pasrah


Dear muslimah, jika ada yang melamarmu tanyakan latar belakang si pelamar, tidak cukup bagimu memasrahkan semua kehendak kepada Allah SWT meski si calon suami terlihat begitu alim dan terpelajar. Sekedar menyerah dan pasrah tanpa usaha adalah pemahaman yang keliru tentang makna tawakal.

Tidak hanya perkara mencari jodoh dibutuhkan usaha. Mencari reziki pun butuh usaha. Jangan kira hanya duduk beribadah kepada Allah lantas menunggu datangnya reziki? Ini juga tawakal yang keliru, sahabat.

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. at-Thalaq: 3)

Dari Umar bin Khaththab Rodhiyallohu Anhu, Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada  burung. Mereka pergi pagi dengan perut kosong dan pulang sore dengan perut kenyang.” (Shahih,HR. Tirmidzi: 2344, dan berkata hadits hasan shahih, Ibnu Majah: 4164, Ahmad, dishahihkan al-Albani)

Tawakal ialah ibadah hati yang tidak terkait dengan pekerjaan badan. Hati tak akan menggubris kegiatan anggota badan kita baik kaki, tangan dan lisan yang sepatutnya berusaha, bekerja keras sehingga tidak semata – mata hanya tergantung pada-Nya.

Tawakal yang benar adalah menyandarkan diri akan semua yang akan terjadi kepada Allah SWT setelah kita melakukan usaha sesuai kemampuan dan keyakinan.
Maka dari itu, bila hendak meninginkan suatu pencapaian, harapan, impian dan keberhasilan ada tiga hal yang saling berkaitan dan dilakukan secara berurutan.

Keyakinan adalah landasan utama mencapai tujuan. Ikthiar, kerja keras adalah jalan menuju impian. Dan tawakal adalah hal yang tak boleh terlewatkan.

Jika keyakinan dan Ikthiar telah dijalankan, maka tawakal terhadap apa yang akan terjadi  kelak kita serahkan pada Yang Maha Berkehendak, baik itu impian kita berhasil dicapai ataupun tidak.

 
eXTReMe Tracker